Usulan pengembangan · Tanjung Lesung
Cara menjual villa di kawasan yang huniannya belum pasti — dengan menjadikan kebun sebagai penopang imbal hasil pembelinya.
Produk yang imbal hasilnya rendah akan lambat terjual. Dan penjualan yang lambat itulah yang menghabiskan untungnya.
Jadi pertanyaannya bukan “berapa harga jual yang bagus”, melainkan bagaimana membuat imbal hasil pembelinya masuk akal di kawasan yang huniannya belum terbukti.
Halaman berikutnya menunjukkan hitungan yang membuat villa biasa sulit dijual di sini.
Satu unit villa, tarif Rp2 juta per minggu. Skenario hunian rendah berarti terisi 10,4 minggu dari 52 minggu setahun. Ini hitungan per villa per tahun.
| Pos | Hunian rendah (10,4 minggu) |
|---|---|
| Pendapatan sewa kotor | Rp20,80 jt |
| (−) Fee operator sewa | −Rp2,08 jt |
| (−) Biaya kebersihan | −Rp1,82 jt |
| (−) IPL kawasan | −Rp17,09 jt |
| (−) PPh final atas sewa | −Rp2,08 jt |
| (−) Cadangan ganti bangunan & interior | −Rp18,85 jt |
| (−) Asuransi bangunan & isi | −Rp1,06 jt |
| (−) PBB | −Rp1,07 jt |
| Hasil sewa bersih | −Rp23,25 jt |
−2,6%
Terhadap harga villa. Di hunian rendah, sewa bahkan belum menutup biaya kepemilikannya sendiri — apalagi memberi imbal hasil.
Empat pos terakhir — PPh sewa, cadangan penggantian, asuransi, dan PBB — sering dihilangkan dari materi penjualan supaya angkanya terlihat manis. Kami memasukkannya, karena investor yang teliti akan menemukannya sendiri dan kepercayaannya hilang.
IPL Rp17,09 juta setahun tetap dibayar walau villa sepi. Inilah yang harus ditekan lebih dulu, sebelum bicara menambah pendapatan.
Sumber: sheet Simulasi Investor, kolom hunian rendah. Angka inilah titik berangkat seluruh usulan berikutnya.
Enam malam Rabu–Senin. Setiap Selasa kawasan tutup dan seluruh unit dibersihkan serentak. Dengan satu hari bersih-bersih yang tetap, tim kebersihan cukup datang seminggu sekali secara borongan — tanpa tenaga harian bergaji tetap yang siaga tiap hari. Pergantian tamu juga hanya sekali seminggu, sehingga linen dan perlengkapan lebih awet. Listrik dan air ditagih ke tamu sesuai pemakaian, di atas tarif sewa, seperti rumah kos.
Sebagian kecil lahan menjadi kawasan villa yang dijual ke investor. Sebagian besarnya ditanami kebun alpukat yang tidak dijual dan tetap milik Tanjung Lesung. Hasil kebun dipakai membayar bagi hasil ke pembeli villa selama 25 tahun, sehingga imbal hasil mereka tidak lagi bergantung penuh pada ramai atau sepinya tamu.
Di bisnis hotel, pendapatan tambahan datang dari F&B dan acara — artinya harus membangun aula besar beserta biaya operasionalnya. Beban itu justru memberatkan. Agro lebih cocok dengan karakter kawasan ini.
Dari beberapa pilihan komoditas, alpukat memberi hasil per hektar yang paling menarik, dan pohonnya terus berbuah puluhan tahun — jauh melampaui masa program 25 tahun.
Sumber bagi hasilnya panen, bukan sewa. Karena itu ia tetap mengalir walaupun villa sedang sepi tamu.
Kebun dikelola operator kebun yang sudah kami dapatkan, sehingga Tanjung Lesung tidak perlu membangun kapabilitas agro sendiri. Rekam jejak operator ada di halaman 15–17.
Angka pada grafik adalah persentase yang diterima pembeli villa, dihitung dari harga jual villanya (Rp893,0 juta) — bukan dari pendapatan sewa. Tahun 1–3 dibayar dari dana titipan, Tahun 4 ke atas dari hasil panen kebun. Karena dasarnya harga villa, tarifnya sama di tingkat hunian berapa pun: pada 6,75% pembeli menerima ±Rp60,3 juta per tahun.
Rp54,1 jt
Harga villa dinaikkan sedikit di atas harga wajar, selisihnya dikunci untuk membayar bagi hasil tahun-tahun awal saat kebun belum panen. Ini uang pembeli sendiri yang kembali bertahap, bukan pendapatan developer.
Cocok persis: tarif 1%+2%+3% dari harga villa, ditambah tambalan IPL tiga tahun, sama dengan Rp54,1 juta.
6,75% / th
Dana titipan habis, kebun mengambil alih sepenuhnya. Tarif naik ke tingkat datar yang membuat rata-rata 25 tahun tepat 6,00%.
Tarif per angkatan mengikuti umur programnya sendiri, bukan tahun kalender proyek — pembeli yang akad di Tahun 3 tetap mulai dari tarif 1%. Rata-rata 25 tahun: (1+2+3+4+5 + 6,75×20) ÷ 25 = 6,00%.
| Pos, per unit villa | Nilai | Didanai siapa | Kembali ke pembeli? |
|---|---|---|---|
| Villa: tanah kavling, konstruksi, interior | Rp599,8 jt | Pembeli | Tidak — itu villanya sendiri |
| Fasum & infrastruktur kawasan | Rp75,6 jt | Pembeli | Tidak — fasilitas yang ia pakai |
| Dana titipan program | Rp54,1 jt | Pembeli | Ya — jadi bagi hasilnya Tahun 1–3 |
| Kebun alpukat | Rp85,5 jt | Tanjung Lesung | Tidak dipungut dari pembeli |
Dua alasan. Pertama, menambah pungutan akan mendorong harga villa ke titik yang tidak bersaing dengan villa biasa di sekitarnya. Kedua, memungut dana investasi kebun mengubah posisi pembeli dari orang yang membeli properti menjadi orang yang menyetor modal usaha — padahal yang dijual harus tetap villa bersertifikat atas namanya, bukan unit penyertaan.
Modal kebun Rp2,14 miliar keluar dari kas TL di Tahun 0–2 dan kembali dari margin penjualan villa. Karena itulah kebun tetap 100% milik TL — dan setelah program selesai, seluruh hasilnya jadi hak TL tanpa kewajiban apa pun.
Pembeli juga tidak menanggung biaya operasional kebun. Fee operator kebun 25% dipotong lebih dulu dari hasil kotor, sebelum apa pun dibagi — jadi tidak pernah menjadi tagihan ke siapa pun.
Inilah yang membuat produk ini bisa dijual. Kolom bagi hasil kebun tidak berubah di ketiga skenario — itulah bagian yang tidak bergantung pada ramai atau sepinya tamu.
| Tingkat hunian | Bagi hasil kebun | Hasil sewa villa | Total yield bersih | Balik modal pembeli |
|---|---|---|---|---|
| Rendah — 20% (10,4 minggu) | 6,00% | −2,58% | 3,42% | di atas 25 tahun |
| Sedang — 58% (30,2 minggu) | 6,00% | +0,57% | 6,57% | 17 tahun |
| Tinggi — 77% (40,0 minggu) | 6,00% | +2,15% | 8,15% | 14 tahun |
Di skenario terburuk sekalipun ia masih menerima 3,42% bersih — bukan minus seperti villa biasa di halaman 3. Dan begitu hunian membaik, hasilnya naik ke 6,6–8,2%, di atas bunga deposito.
Program membayar dua hal: tarif bagi hasil, ditambah tambalan kekurangan IPL supaya tarifnya tetap tercapai walau hunian hanya sesuai skenario rendah. Karena itu kolom hunian rendah persis sama dengan tarifnya.
1,5×
Total bagi hasil kebun selama 25 tahun terhadap harga villa — di luar villanya sendiri yang tetap bersertifikat atas namanya.
Semua angka sudah dipotong fee operator, kebersihan, IPL, PPh final sewa, PBB, asuransi, dan cadangan penggantian. Harga villa naik hanya 6,45% akibat program — tetap bersaing dengan villa biasa di sekitarnya.
25
Paling efisien dari sisi biaya IPL per unit. Terlalu banyak, kesan eksklusifnya hilang.
72 m²
8×9 m. Bangunan 58 m², dua lantai, lengkap perabot.
Rp893,0 jt
Harga wajar Rp838,8 jt + dana titipan Rp54,1 jt.
9 / 8 / 8
Habis dalam tiga tahun.
| Peruntukan | Luas | Status |
|---|---|---|
| Kavling villa | 1.800 m² | Dijual |
| Jalan, taman & fasum | 1.800 m² | Tidak dijual |
| Kebun alpukat | 30.000 m² | Tetap milik TL |
| Total hamparan dibutuhkan | 3,36 ha | — |
Kebunnya jauh lebih luas daripada area villanya. Pada dasarnya ini proyek kebun yang dibiayai penjualan villa.
Harga tanah dibebankan atas 144 m² lahan kotor per unit, bukan 72 m² kavlingnya saja — tanah di bawah jalan dan fasum tetap harus dibeli. Biaya infrastruktur dihitung Rp850.000/m² atas lahan non-saleable, ditambah pembebanan kawasan Rp100.000/m² lahan kotor, mengikuti acuan Business Plan 2022.
Rp22,32 miliar
Omset kotor 25 unit. Halaman berikutnya memecah berapa yang benar-benar menjadi untung Tanjung Lesung.
“Selling income Rp3,97 miliar” adalah laba di tingkat harga: margin developer 15% ditambah keuntungan tanah. Itu belum dikurangi IPL unit yang belum terjual. Setelah dikurangi, kas bersihnya Rp3,14 miliar.
Rp2,53 M
Rp101,31 juta per unit × 25 unit, dihitung atas biaya pokok villa Rp675,4 juta.
Rp1,44 M
Seluruh 3.600 m² ditagihkan lewat harga jual @ Rp500.000/m² = Rp1,80 M, dikurangi modal perolehan @ Rp100.000/m² = Rp0,36 M.
−Rp0,84 M
Biaya kawasan untuk unit yang belum berpindah tangan selama tiga tahun masa jual.
Rp3,14 M
Kunci ringannya modal: konstruksi dan interior dibayar langsung ke kontraktor dari uang pembeli, bukan dari kas TL. Cek silang lewat jalur lain: kas masuk bersih Rp248,9 juta × 25 unit = Rp6,22 M, dikurangi modal tanah Rp0,36 M, infrastruktur Rp1,89 M, dan IPL Rp0,84 M → Rp3,14 M. Kedua jalur bertemu di angka yang sama.
Angka ini net untuk Tanjung Lesung. Urutan pemotongannya: hasil panen kotor → dipotong fee operator kebun 25% → dipotong seluruh bagi hasil ke pemilik villa → dipotong fee konsultan → sisanya inilah bagian TL. Rata-rata dihitung atas 31 tahun; tiga tahun pertama masih minus karena kebun belum berbuah, dan angka Rp4 miliar baru terlampaui sekitar Tahun 15.
Rp0,80 M
Rp1,59 M
Rp7,25 M
Rp4,03 M
Sudah dipotong seluruh bagi hasil ke pemilik villa, fee operator kebun 25%, dan fee konsultan. Ini angka yang benar-benar masuk ke TL, bukan hasil kotor kebun.
Rp8,95 M / th
Seluruh hasil kebun jadi hak TL, tanpa kewajiban apa pun lagi.
54,2%
Dari hasil kotor kebun, di tahun-tahun awal saat kewajiban ke pembeli paling berat.
62,2%
Kewajiban ke pembeli tinggal porsi kecil.
59,8%
Operator kebun 25% (tetap), pembeli villa 15,2%, TL 59,8%.
Hanya porsi operator kebun yang tetap. Pembeli villa menerima nilai rupiah yang sudah dijanjikan, bukan persentase — sehingga porsinya menyusut seiring kebun membesar, dan sisanya menjadi bagian TL. Akumulasi bagian TL sepanjang 31 tahun: Rp127,3 miliar sebelum fee konsultan, Rp124,9 miliar sesudahnya. Kalau dihitung hanya selama program masih punya kewajiban ke pembeli (Tahun 1–28): Rp107,0 miliar.
Ini bagian yang paling sering disalahpahami, dan justru di sinilah letak keamanannya bagi pemilik lahan.
| Skenario hunian | Yield pembeli villa | Kas TL dari sewa | Kewajiban TL ke pembeli | Bagian TL dari kebun |
|---|---|---|---|---|
| Rendah — 20% | 3,42% | Rp0 | 6,00% harga villa | Rp4,03 M / th |
| Sedang — 58% | 6,57% | Rp0 | 6,00% harga villa | Rp4,03 M / th |
| Tinggi — 77% | 8,15% | Rp0 | 6,00% harga villa | Rp4,03 M / th |
Pembeli villa menanggung risiko tingkat hunian.
Tanjung Lesung menanggung risiko hasil panen dan kecepatan penjualan.
Dua risiko yang berbeda, dan tidak saling menumpuk. Itu sebabnya program ini tetap sanggup di skenario hunian terburuk.
Dua hal, dan keduanya diuji di halaman berikutnya: kecepatan penjualan villa dan hasil panen kebun. Bukan tingkat hunian.
Sumber: sheet Simulasi Investor (kolom tambalan IPL sama di ketiga skenario) dan Arus Kas Pemilik Lahan (tidak ada pos pendapatan sewa).
Rp2,52 M
Kebun tahap 1, infrastruktur tahap 1, 1 unit contoh + 1 ready stock.
Rp5,48 M
Jatuh di Tahun 1. Turun ke ±Rp3,10 M bila kontraktor bersedia dibayar 50% di muka.
Tahun ke-4
27,7%
Atas seluruh modal, rentang 31 tahun.
IRR 23,6%
Modal kecil, kembali cepat.
IRR 29,5%
Modal di depan, hasil puluhan tahun.
Kedua sisi memecah arus kas yang sama, bukan dua proyek terpisah. Modal kebun total Rp2,14 M ditanam tiga tahap di Tahun 0/1/2; modal infrastruktur Rp1,89 M dibangun 40%/30%/30% di Tahun 0/1/2.
Sumber: sheet Perbandingan. Pada tabel ini 25 villa disebar rata sepanjang durasi jual yang diuji supaya skenario molor bisa dihitung konsisten. Harga jual skenario tanpa alpukat sudah diturunkan ke harga dasar tanpa dana titipan, karena tanpa kebun tidak ada program yang perlu didanai.
| Risiko | Penanganan |
|---|---|
| Hasil panen meleset | Luas kebun sengaja dipasang di atas kebutuhan minimum. Program tetap sanggup walau panen tinggal 70% dari proyeksi — tahun tersempit Tahun 7, sisa +Rp0,34 M. Pada panen 50% muncul kekurangan total ±Rp250 juta yang terpusat di Tahun 7–9 dan perlu ditutup cadangan. Fee operator sudah dipotong lebih dulu. |
| Penjualan villa molor | Halaman sebelumnya: dengan kebun, kas Tahun 10 tetap Rp8,4–9,7 M walau jual molor sampai 10 tahun. |
| Hunian di bawah skenario rendah | Yang terdampak adalah yield pembeli, bukan kas TL. Mitigasinya operasional: pilih operator sewa yang punya saluran pemasaran. |
| Bergantung pada pre-sales | Titik lemah paling nyata. Mitigasinya: 2 unit contoh dibangun lebih dulu, jual bertahap per blok kecil, pembayaran mengikuti progres pembangunan. |
| Dianggap produk investasi berizin | Tarif naik-turun mengikuti kematangan kebun, dan yang dijual tetap villa bersertifikat atas nama pembeli — bukan unit penyertaan. Seluruh materi wajib memakai kata proyeksi, dan dituangkan tegas dalam PPJB. |
3,36 ha adalah unit terkecil yang sudah lengkap: cukup besar untuk membuktikan imbal hasilnya nyata, cukup kecil untuk gagal dengan murah. Modal segarnya Rp2,52 miliar, bukan puluhan miliar. Kalau terbukti, polanya bisa diulang — dan setiap klaster berikutnya membawa dua hal sekaligus: kavling yang terjual dan kebun yang jadi aset produktif permanen milik TL.
Catatan: angka untuk klaster kedua dan seterusnya belum dimodelkan. Yang sudah divalidasi penuh adalah klaster pertama ini.
Properti menghasilkan penjualan. Kebun menjaga keberlanjutannya. Seluruh angka dapat ditelusuri ke model Excel Villa + Alpukat ver 3 (dengan Fee Konsultan).
Seluruh rekaman berikut berasal dari kebun binaan operator yang kami usulkan, bukan video stok. Inilah yang membedakan usulan ini dari rencana agro yang baru akan dicoba.
Sistem budidaya operator memakai tanaman pendamping (jambu sebagai umpan alami hama) dan pagar hidup produktif (salak) — keduanya ikut menghasilkan, bukan sekadar pelindung.
Varietas yang ditanam dipilih berdasarkan hasil per pohon dan daya serap pasar, bukan sekadar yang paling mudah dibibitkan.






Materi lengkap operator: alpukat.djoko-saylendro.biz.id. Kunjungan ke kebun binaan dapat diatur bila Direksi memerlukan pembuktian langsung.
Cara paling jujur menguji sebuah proyeksi adalah membandingkannya dengan angka pihak yang akan mengerjakannya. Di sini modelnya sengaja dipasang di bawah.
| Parameter per hektar | Angka operator | Dipakai model ini |
|---|---|---|
| Kepadatan tanam | 250 pohon | 250 pohon |
| Total modal sampai kebun mandiri | Rp700–800 jt | Rp712,9 jt |
| Mulai mandiri biaya | Tahun ke-2–3 | Tahun ke-3 |
| Estimasi hasil bersih / ha / tahun | ±Rp2,50 M | Rp1,65 M |
| Harga jual dipakai | Rp20.000/kg | Rp20.000/kg |
| Model ini terhadap angka operator | 100% | 66% |
Angka operator sendiri sudah disebut skenario konservatif: hasil per pohon dan frekuensi panen diambil di batas bawah, sementara harga jual memakai rata-rata pasar riil — padahal harga retail alpukat premium bisa Rp80–90 ribu/kg.
Seluruh angka IRR dan bagi hasil di halaman sebelumnya berdiri di atas asumsi panen sepertiga lebih rendah daripada yang diklaim operator. Ruang kelirunya sudah dipasang di depan, bukan disembunyikan.
Jabodetabek saja: 40 juta penduduk, asumsi 5% konsumen rutin, 0,5 kg/hari @ Rp20 ribu → ±Rp7,2 triliun/tahun. Untuk memenuhinya perlu ±2.880 ha kebun terstruktur, sementara kebun berproduksi penuh di atas 100 ha pun belum ada di Indonesia. Kebun 3 ha di sini tidak akan kesulitan menyerap pasar.
Angka operator dari alpukat.djoko-saylendro.biz.id. Seluruhnya bersifat proyeksi berdasarkan asumsi yang dapat diubah, bukan jaminan hasil — dan justru karena itu model ini memasang asumsinya lebih rendah.
Silakan ubah asumsinya sendiri — geser luas lahan, skema bagi hasil, dan asumsi harga, angkanya menghitung ulang saat itu juga. Kalkulator ini menghitung sisi kebunnya saja, terpisah dari model villa, dipakai untuk menguji apakah asumsi kebun di halaman sebelumnya masuk akal. Butuh layar lebih lega? Buka di tab terpisah. Seluruh hasil bersifat proyeksi atas asumsi yang dapat diubah, bukan jaminan hasil.
← → untuk berpindah slide