Usulan pengembangan · Tanjung Lesung

Villa Investasi
+ Kebun Alpukat

Cara menjual villa di kawasan yang huniannya belum pasti — dengan menjadikan kebun sebagai penopang imbal hasil pembelinya.

Bagian 1 — MasalahPosisi hari ini2 / 18

Hamparan luas di kawasan wisata yang belum berkembang — dan lahan yang diam tetap menagih biaya.

  • Lahan yang belum terutilisasi bukan aset yang tidur.PBB, keamanan, pembersihan, dan biaya manajemen tetap keluar setiap tahun tanpa satu rupiah pun masuk.
  • Villa sewa di lokasi seperti ini sulit dijual.Calon investor tahu tingkat huniannya belum pasti. Tanpa kepastian hasil, mereka lebih memilih properti di kota.
  • Pembeli villa tidak berniat menghuni.Mereka membeli agar villanya menghasilkan. Kalau imbal hasilnya tidak masuk akal, tidak ada alasan untuk membeli.
  • Kalau unit tidak laku, pemilik lahan yang menanggung.IPL unit yang belum terjual dan biaya promosi terus berjalan selama unit belum berpindah tangan.
Inti persoalannya

Produk yang imbal hasilnya rendah akan lambat terjual. Dan penjualan yang lambat itulah yang menghabiskan untungnya.

Jadi pertanyaannya bukan “berapa harga jual yang bagus”, melainkan bagaimana membuat imbal hasil pembelinya masuk akal di kawasan yang huniannya belum terbukti.

Halaman berikutnya menunjukkan hitungan yang membuat villa biasa sulit dijual di sini.

Bagian 1 — MasalahHitungannya3 / 18

Kalau villa hanya mengandalkan sewa, di hunian rendah pembelinya justru nombok.

Satu unit villa, tarif Rp2 juta per minggu. Skenario hunian rendah berarti terisi 10,4 minggu dari 52 minggu setahun. Ini hitungan per villa per tahun.

PosHunian rendah (10,4 minggu)
Pendapatan sewa kotorRp20,80 jt
(−) Fee operator sewa−Rp2,08 jt
(−) Biaya kebersihan−Rp1,82 jt
(−) IPL kawasan−Rp17,09 jt
(−) PPh final atas sewa−Rp2,08 jt
(−) Cadangan ganti bangunan & interior−Rp18,85 jt
(−) Asuransi bangunan & isi−Rp1,06 jt
(−) PBB−Rp1,07 jt
Hasil sewa bersih−Rp23,25 jt
Artinya

−2,6%

Terhadap harga villa. Di hunian rendah, sewa bahkan belum menutup biaya kepemilikannya sendiri — apalagi memberi imbal hasil.

Kenapa angka ini apa adanya

Empat pos terakhir — PPh sewa, cadangan penggantian, asuransi, dan PBB — sering dihilangkan dari materi penjualan supaya angkanya terlihat manis. Kami memasukkannya, karena investor yang teliti akan menemukannya sendiri dan kepercayaannya hilang.

Beban terbesarnya

IPL Rp17,09 juta setahun tetap dibayar walau villa sepi. Inilah yang harus ditekan lebih dulu, sebelum bicara menambah pendapatan.

Sumber: sheet Simulasi Investor, kolom hunian rendah. Angka inilah titik berangkat seluruh usulan berikutnya.

Bagian 2 — GagasanKonsep4 / 18

Tekan biayanya dulu, baru tambah sumber pendapatannya.

1

Sewa per minggu, bukan per hari — supaya biayanya turun

Enam malam Rabu–Senin. Setiap Selasa kawasan tutup dan seluruh unit dibersihkan serentak. Dengan satu hari bersih-bersih yang tetap, tim kebersihan cukup datang seminggu sekali secara borongan — tanpa tenaga harian bergaji tetap yang siaga tiap hari. Pergantian tamu juga hanya sekali seminggu, sehingga linen dan perlengkapan lebih awet. Listrik dan air ditagih ke tamu sesuai pemakaian, di atas tarif sewa, seperti rumah kos.

2

Bagi lahan jadi dua: sebagian dijual, sebagian ditanami — supaya ada pendapatan kedua

Sebagian kecil lahan menjadi kawasan villa yang dijual ke investor. Sebagian besarnya ditanami kebun alpukat yang tidak dijual dan tetap milik Tanjung Lesung. Hasil kebun dipakai membayar bagi hasil ke pembeli villa selama 25 tahun, sehingga imbal hasil mereka tidak lagi bergantung penuh pada ramai atau sepinya tamu.

Kenapa agro, bukan F&B

Di bisnis hotel, pendapatan tambahan datang dari F&B dan acara — artinya harus membangun aula besar beserta biaya operasionalnya. Beban itu justru memberatkan. Agro lebih cocok dengan karakter kawasan ini.

Kenapa alpukat

Dari beberapa pilihan komoditas, alpukat memberi hasil per hektar yang paling menarik, dan pohonnya terus berbuah puluhan tahun — jauh melampaui masa program 25 tahun.

Kalimat kuncinya

Sumber bagi hasilnya panen, bukan sewa. Karena itu ia tetap mengalir walaupun villa sedang sepi tamu.

Kebun dikelola operator kebun yang sudah kami dapatkan, sehingga Tanjung Lesung tidak perlu membangun kapabilitas agro sendiri. Rekam jejak operator ada di halaman 15–17.

Bagian 3 — Cara kerjaMesin programnya5 / 18

Tiga tahun pertama dibayar uang pembeli sendiri. Tahun keempat dan seterusnya, kebun yang menanggung.

Tarif bagi hasil yang diterima pembeli, per tahun program (% dari harga villa)
Didanai dana titipan pembeli Didanai hasil panen kebun

Angka pada grafik adalah persentase yang diterima pembeli villa, dihitung dari harga jual villanya (Rp893,0 juta) — bukan dari pendapatan sewa. Tahun 1–3 dibayar dari dana titipan, Tahun 4 ke atas dari hasil panen kebun. Karena dasarnya harga villa, tarifnya sama di tingkat hunian berapa pun: pada 6,75% pembeli menerima ±Rp60,3 juta per tahun.

Tahun 1–3 — dana titipan

Rp54,1 jt

Harga villa dinaikkan sedikit di atas harga wajar, selisihnya dikunci untuk membayar bagi hasil tahun-tahun awal saat kebun belum panen. Ini uang pembeli sendiri yang kembali bertahap, bukan pendapatan developer.

Cocok persis: tarif 1%+2%+3% dari harga villa, ditambah tambalan IPL tiga tahun, sama dengan Rp54,1 juta.

Tahun 4–25 — hasil kebun

6,75% / th

Dana titipan habis, kebun mengambil alih sepenuhnya. Tarif naik ke tingkat datar yang membuat rata-rata 25 tahun tepat 6,00%.

Tarif per angkatan mengikuti umur programnya sendiri, bukan tahun kalender proyek — pembeli yang akad di Tahun 3 tetap mulai dari tarif 1%. Rata-rata 25 tahun: (1+2+3+4+5 + 6,75×20) ÷ 25 = 6,00%.

Bagian 3 — Cara kerjaSiapa menanggung apa6 / 18

Pembeli tidak ikut mendanai kebun. Justru itu yang membuat kebun tetap 100% milik Tanjung Lesung.

Pos, per unit villaNilaiDidanai siapaKembali ke pembeli?
Villa: tanah kavling, konstruksi, interiorRp599,8 jtPembeliTidak — itu villanya sendiri
Fasum & infrastruktur kawasanRp75,6 jtPembeliTidak — fasilitas yang ia pakai
Dana titipan programRp54,1 jtPembeliYa — jadi bagi hasilnya Tahun 1–3
Kebun alpukatRp85,5 jtTanjung LesungTidak dipungut dari pembeli
Pertanyaan yang pasti muncul: kalau pembeli tidak mendanai kebun, atas dasar apa ia dapat bagi hasil?
  • Karena bagi hasil itu bagian dari harga yang ia bayar.Harga villa sudah dinaikkan 6,45% di atas harga wajar untuk mendanai tahun-tahun awal. Ia membeli hak atas aliran hasil, bukan menerima hadiah.
  • Karena tanpa itu villanya tidak terjual.Bagi hasil kebun adalah biaya penjualan yang dibayar dengan hasil panen, bukan dengan memotong margin developer. Villa yang tidak laku merugikan semua pihak.
  • Yang ia terima nilai rupiah, bukan persentase kepemilikan.Porsinya terhadap hasil kebun justru menyusut seiring kebun membesar — dari 41% di puncak menjadi 13% di tahun ke-25, lalu nol.
Kenapa kebun sengaja tidak dipungut dari pembeli

Dua alasan. Pertama, menambah pungutan akan mendorong harga villa ke titik yang tidak bersaing dengan villa biasa di sekitarnya. Kedua, memungut dana investasi kebun mengubah posisi pembeli dari orang yang membeli properti menjadi orang yang menyetor modal usaha — padahal yang dijual harus tetap villa bersertifikat atas namanya, bukan unit penyertaan.

Konsekuensinya bagi Tanjung Lesung

Modal kebun Rp2,14 miliar keluar dari kas TL di Tahun 0–2 dan kembali dari margin penjualan villa. Karena itulah kebun tetap 100% milik TL — dan setelah program selesai, seluruh hasilnya jadi hak TL tanpa kewajiban apa pun.

Pembeli juga tidak menanggung biaya operasional kebun. Fee operator kebun 25% dipotong lebih dulu dari hasil kotor, sebelum apa pun dibagi — jadi tidak pernah menjadi tagihan ke siapa pun.

Bagian 3 — Cara kerjaBukti produk akan laku7 / 18

Hasilnya: pembeli dapat 6% dari kebun apa pun tingkat huniannya.

Inilah yang membuat produk ini bisa dijual. Kolom bagi hasil kebun tidak berubah di ketiga skenario — itulah bagian yang tidak bergantung pada ramai atau sepinya tamu.

Tingkat hunianBagi hasil kebunHasil sewa villaTotal yield bersihBalik modal pembeli
Rendah — 20% (10,4 minggu)6,00%−2,58%3,42%di atas 25 tahun
Sedang — 58% (30,2 minggu)6,00%+0,57%6,57%17 tahun
Tinggi — 77% (40,0 minggu)6,00%+2,15%8,15%14 tahun
Kenapa investor villa mau

Di skenario terburuk sekalipun ia masih menerima 3,42% bersih — bukan minus seperti villa biasa di halaman 3. Dan begitu hunian membaik, hasilnya naik ke 6,6–8,2%, di atas bunga deposito.

Bentuk jaminannya

Program membayar dua hal: tarif bagi hasil, ditambah tambalan kekurangan IPL supaya tarifnya tetap tercapai walau hunian hanya sesuai skenario rendah. Karena itu kolom hunian rendah persis sama dengan tarifnya.

Yang tetap jadi miliknya

1,5×

Total bagi hasil kebun selama 25 tahun terhadap harga villa — di luar villanya sendiri yang tetap bersertifikat atas namanya.

Semua angka sudah dipotong fee operator, kebersihan, IPL, PPh final sewa, PBB, asuransi, dan cadangan penggantian. Harga villa naik hanya 6,45% akibat program — tetap bersaing dengan villa biasa di sekitarnya.

Bagian 4 — Untuk Tanjung LesungSkala8 / 18

Yang diminta: 3,36 hektar — 25 villa di atas 0,36 ha, ditopang 3 ha kebun.

Jumlah unit

25

Paling efisien dari sisi biaya IPL per unit. Terlalu banyak, kesan eksklusifnya hilang.

Kavling & bangunan

72 m²

8×9 m. Bangunan 58 m², dua lantai, lengkap perabot.

Harga jual per unit

Rp893,0 jt

Harga wajar Rp838,8 jt + dana titipan Rp54,1 jt.

Target penjualan

9 / 8 / 8

Habis dalam tiga tahun.

Pembagian lahan
PeruntukanLuasStatus
Kavling villa1.800 m²Dijual
Jalan, taman & fasum1.800 m²Tidak dijual
Kebun alpukat30.000 m²Tetap milik TL
Total hamparan dibutuhkan3,36 ha

Kebunnya jauh lebih luas daripada area villanya. Pada dasarnya ini proyek kebun yang dibiayai penjualan villa.

Catatan pembebanan biaya

Harga tanah dibebankan atas 144 m² lahan kotor per unit, bukan 72 m² kavlingnya saja — tanah di bawah jalan dan fasum tetap harus dibeli. Biaya infrastruktur dihitung Rp850.000/m² atas lahan non-saleable, ditambah pembebanan kawasan Rp100.000/m² lahan kotor, mengikuti acuan Business Plan 2022.

Total nilai penjualan kawasan

Rp22,32 miliar

Omset kotor 25 unit. Halaman berikutnya memecah berapa yang benar-benar menjadi untung Tanjung Lesung.

Bagian 4 — Untuk Tanjung LesungReward A — properti9 / 18

Dari penjualan villa: Rp3,14 miliar kas bersih, sekali, selama tiga tahun jualan.

“Selling income Rp3,97 miliar” adalah laba di tingkat harga: margin developer 15% ditambah keuntungan tanah. Itu belum dikurangi IPL unit yang belum terjual. Setelah dikurangi, kas bersihnya Rp3,14 miliar.

Dari laba tingkat harga ke kas bersih (Rp miliar)
1. Margin developer 15%

Rp2,53 M

Rp101,31 juta per unit × 25 unit, dihitung atas biaya pokok villa Rp675,4 juta.

2. Keuntungan tanah

Rp1,44 M

Seluruh 3.600 m² ditagihkan lewat harga jual @ Rp500.000/m² = Rp1,80 M, dikurangi modal perolehan @ Rp100.000/m² = Rp0,36 M.

3. (−) IPL unit belum terjual

−Rp0,84 M

Biaya kawasan untuk unit yang belum berpindah tangan selama tiga tahun masa jual.

= Kas bersih sisi properti

Rp3,14 M

Kunci ringannya modal: konstruksi dan interior dibayar langsung ke kontraktor dari uang pembeli, bukan dari kas TL. Cek silang lewat jalur lain: kas masuk bersih Rp248,9 juta × 25 unit = Rp6,22 M, dikurangi modal tanah Rp0,36 M, infrastruktur Rp1,89 M, dan IPL Rp0,84 M → Rp3,14 M. Kedua jalur bertemu di angka yang sama.

Bagian 4 — Untuk Tanjung LesungReward B — kebun10 / 18

Dari kebun: Rp4,03 miliar rata-rata per tahun — dan terus berjalan setelah villanya habis terjual.

Angka ini net untuk Tanjung Lesung. Urutan pemotongannya: hasil panen kotor → dipotong fee operator kebun 25% → dipotong seluruh bagi hasil ke pemilik villa → dipotong fee konsultan → sisanya inilah bagian TL. Rata-rata dihitung atas 31 tahun; tiga tahun pertama masih minus karena kebun belum berbuah, dan angka Rp4 miliar baru terlampaui sekitar Tahun 15.

Bagian Tanjung Lesung dari kebun, per tahun (Rp miliar) — setelah fee operator, kewajiban ke pembeli villa, dan fee konsultan
Bagian TL dari kebun Masa tanam — belum berbuah
Tahun ke-5

Rp0,80 M

Tahun ke-10

Rp1,59 M

Tahun ke-25

Rp7,25 M

Rata-rata per tahun (31 th) — NET

Rp4,03 M

Sudah dipotong seluruh bagi hasil ke pemilik villa, fee operator kebun 25%, dan fee konsultan. Ini angka yang benar-benar masuk ke TL, bukan hasil kotor kebun.

Setelah program selesai (Th 29+)

Rp8,95 M / th

Seluruh hasil kebun jadi hak TL, tanpa kewajiban apa pun lagi.

Porsi TL saat kebun mulai dibebani

54,2%

Dari hasil kotor kebun, di tahun-tahun awal saat kewajiban ke pembeli paling berat.

Porsi TL saat kebun matang

62,2%

Kewajiban ke pembeli tinggal porsi kecil.

Porsi TL sepanjang 31 tahun

59,8%

Operator kebun 25% (tetap), pembeli villa 15,2%, TL 59,8%.

Hanya porsi operator kebun yang tetap. Pembeli villa menerima nilai rupiah yang sudah dijanjikan, bukan persentase — sehingga porsinya menyusut seiring kebun membesar, dan sisanya menjadi bagian TL. Akumulasi bagian TL sepanjang 31 tahun: Rp127,3 miliar sebelum fee konsultan, Rp124,9 miliar sesudahnya. Kalau dihitung hanya selama program masih punya kewajiban ke pembeli (Tahun 1–28): Rp107,0 miliar.

Bagian 4 — Untuk Tanjung LesungJawaban pertanyaan kunci11 / 18

Uang Tanjung Lesung tidak bergerak mengikuti tingkat hunian. Risiko hunian ditanggung pembeli villa.

Ini bagian yang paling sering disalahpahami, dan justru di sinilah letak keamanannya bagi pemilik lahan.

Skenario hunianYield pembeli villaKas TL dari sewaKewajiban TL ke pembeliBagian TL dari kebun
Rendah — 20%3,42%Rp06,00% harga villaRp4,03 M / th
Sedang — 58%6,57%Rp06,00% harga villaRp4,03 M / th
Tinggi — 77%8,15%Rp06,00% harga villaRp4,03 M / th
Kenapa kolomnya tidak berubah
  • TL tidak mengambil bagian dari sewa.Seluruh hasil sewa menjadi hak pembeli villa. Tidak ada satu pun baris pendapatan sewa di arus kas pemilik lahan.
  • Kewajiban ke pembeli adalah persen dari harga villa, bukan persen dari sewa.Nilainya terkunci sejak akad dan dibayar dari panen — naik atau turunnya hunian tidak mengubahnya.
  • Satu-satunya kaitan sangat kecil.Tambalan IPL Rp188.000 per unit per tahun, atau Rp4,7 juta setahun untuk 25 unit — sekitar 0,1% dari bagian TL atas kebun. Model tetap membayarnya di semua skenario, jadi angka TL memang identik.
Pembagian risiko yang sebenarnya

Pembeli villa menanggung risiko tingkat hunian.
Tanjung Lesung menanggung risiko hasil panen dan kecepatan penjualan.

Dua risiko yang berbeda, dan tidak saling menumpuk. Itu sebabnya program ini tetap sanggup di skenario hunian terburuk.

Lalu apa yang menggerakkan angka TL?

Dua hal, dan keduanya diuji di halaman berikutnya: kecepatan penjualan villa dan hasil panen kebun. Bukan tingkat hunian.

Sumber: sheet Simulasi Investor (kolom tambalan IPL sama di ketiga skenario) dan Arus Kas Pemilik Lahan (tidak ada pos pendapatan sewa).

Bagian 4 — Untuk Tanjung LesungModal & IRR12 / 18

Modal segar Rp2,52 miliar, balik modal Tahun 4, IRR 27,7%.

Uang segar Tahun 0

Rp2,52 M

Kebun tahap 1, infrastruktur tahap 1, 1 unit contoh + 1 ready stock.

Kebutuhan dana terdalam

Rp5,48 M

Jatuh di Tahun 1. Turun ke ±Rp3,10 M bila kontraktor bersedia dibayar 50% di muka.

Balik modal

Tahun ke-4

IRR pemilik lahan

27,7%

Atas seluruh modal, rentang 31 tahun.

IRR 27,7% itu asumsinya apa
  • Sumber arus kas: penjualan villa + bagian TL atas kebun. Tidak termasuk pendapatan sewa — TL memang tidak mengambil bagian sewa.
  • Tingkat hunian: skenario rendah 20%, yang paling pesimis. Hunian lebih tinggi tidak mengubah IRR TL.
  • Penjualan: 25 unit habis dalam 3 tahun (9/8/8), pembayaran konsumen dicicil 2 tahun.
  • Panen: faktor konservatif 100% atas kurva hasil di sheet Asumsi — kurva yang sendirinya sudah di bawah angka operator (halaman 16).
  • Tanah: harga beli tanah historis ikut dibebankan — tanah tidak dianggap gratis.
Kas kumulatif pemilik lahan, Tahun 0–10 (Rp miliar)
Sisi properti

IRR 23,6%

Modal kecil, kembali cepat.

Sisi kebun

IRR 29,5%

Modal di depan, hasil puluhan tahun.

Kedua sisi memecah arus kas yang sama, bukan dua proyek terpisah. Modal kebun total Rp2,14 M ditanam tiga tahap di Tahun 0/1/2; modal infrastruktur Rp1,89 M dibangun 40%/30%/30% di Tahun 0/1/2.

Bagian 5 — RisikoKalau tidak dijalankan13 / 18

Pertanyaannya bukan mana yang lebih untung, tapi mana yang masih hidup kalau villanya lambat laku.

Kas kumulatif pemilik lahan di Tahun 10 (Rp miliar), menurut berapa lama 25 villa habis terjual
Dengan alpukat Tanpa alpukat
  • Tanpa alpukat, untungnya tergerus habis.Dari Rp3,12 M kalau jual 3 tahun, menjadi −Rp0,78 M kalau molor 10 tahun. Yang menggerus: IPL villa yang belum laku dan biaya promosi yang terus berjalan.
  • Dengan alpukat, untungnya bertahan.Tetap Rp8,4–9,7 M di semua skenario, karena kebun ditanam sesuai jadwal dan terus panen tanpa peduli villanya laku atau tidak.
  • IRR 25 tahun: 1,0% vs 23,9%.Pada skenario penjualan molor 10 tahun. Selisihnya bukan soal untung lebih besar — ini soal proyeknya jalan atau mati.
  • Kebun juga jadi bantalan.Kewajiban bagi hasil ikut mundur mengikuti penjualan, jadi saat kewajiban datang kebunnya sudah lebih tua dan lebih produktif. Surplus kebun menutup IPL unit yang belum terjual.

Sumber: sheet Perbandingan. Pada tabel ini 25 villa disebar rata sepanjang durasi jual yang diuji supaya skenario molor bisa dihitung konsisten. Harga jual skenario tanpa alpukat sudah diturunkan ke harga dasar tanpa dana titipan, karena tanpa kebun tidak ada program yang perlu didanai.

Bagian 5 — RisikoMitigasi & keputusan14 / 18

Risiko utamanya terukur — dan pilotnya sengaja dibuat kecil.

RisikoPenanganan
Hasil panen melesetLuas kebun sengaja dipasang di atas kebutuhan minimum. Program tetap sanggup walau panen tinggal 70% dari proyeksi — tahun tersempit Tahun 7, sisa +Rp0,34 M. Pada panen 50% muncul kekurangan total ±Rp250 juta yang terpusat di Tahun 7–9 dan perlu ditutup cadangan. Fee operator sudah dipotong lebih dulu.
Penjualan villa molorHalaman sebelumnya: dengan kebun, kas Tahun 10 tetap Rp8,4–9,7 M walau jual molor sampai 10 tahun.
Hunian di bawah skenario rendahYang terdampak adalah yield pembeli, bukan kas TL. Mitigasinya operasional: pilih operator sewa yang punya saluran pemasaran.
Bergantung pada pre-salesTitik lemah paling nyata. Mitigasinya: 2 unit contoh dibangun lebih dulu, jual bertahap per blok kecil, pembayaran mengikuti progres pembangunan.
Dianggap produk investasi berizinTarif naik-turun mengikuti kematangan kebun, dan yang dijual tetap villa bersertifikat atas nama pembeli — bukan unit penyertaan. Seluruh materi wajib memakai kata proyeksi, dan dituangkan tegas dalam PPJB.
Kenapa mulai dari satu klaster

3,36 ha adalah unit terkecil yang sudah lengkap: cukup besar untuk membuktikan imbal hasilnya nyata, cukup kecil untuk gagal dengan murah. Modal segarnya Rp2,52 miliar, bukan puluhan miliar. Kalau terbukti, polanya bisa diulang — dan setiap klaster berikutnya membawa dua hal sekaligus: kavling yang terjual dan kebun yang jadi aset produktif permanen milik TL.

Catatan: angka untuk klaster kedua dan seterusnya belum dimodelkan. Yang sudah divalidasi penuh adalah klaster pertama ini.

Yang kami mintakan persetujuan
  • Alokasi lahan 3,36 ha0,36 ha area villa + 3 ha kebun, dalam satu hamparan.
  • Dana Tahun 0 sebesar Rp2,52 miliarKebun tahap 1, infrastruktur tahap 1, dua unit contoh.
  • Penunjukan operator kebunSudah kami dapatkan — rekam jejaknya di dua halaman berikut.
  • Skema pembayaran kontraktor 50/50Menurunkan kebutuhan dana puncak dari Rp5,48 M ke ±Rp3,10 M.

Properti menghasilkan penjualan. Kebun menjaga keberlanjutannya. Seluruh angka dapat ditelusuri ke model Excel Villa + Alpukat ver 3 (dengan Fee Konsultan).

Lampiran — Bukti lapanganRekaman kebun binaan15 / 18

Kebunnya sudah ada dan sudah panen — bukan konsep di atas kertas.

Seluruh rekaman berikut berasal dari kebun binaan operator yang kami usulkan, bukan video stok. Inilah yang membedakan usulan ini dari rencana agro yang baru akan dicoba.

Kebun di Karangpilang
Rekaman langsung dari kebun binaan
Kebun Samarinda, 2th — pohon muda sudah berbuah
Panen jambu madu deli & citra

Sistem budidaya operator memakai tanaman pendamping (jambu sebagai umpan alami hama) dan pagar hidup produktif (salak) — keduanya ikut menghasilkan, bukan sekadar pelindung.

Lampiran — Bukti lapanganFoto kebun dan hasil panen16 / 18

Tim, pohon, dan buahnya — semuanya nyata dan bisa dikunjungi.

Varietas yang ditanam dipilih berdasarkan hasil per pohon dan daya serap pasar, bukan sekadar yang paling mudah dibibitkan.

Tim menanam bibit di lapangan
Tim menanam bibit di lapangan
Tim memanen alpukat
Tim memanen alpukat
Proses petik langsung dari pohon
Proses petik langsung dari pohon
Alpukat varietas Green Taiwan dibelah dua
Alpukat Green Taiwan
Alpukat varietas SAB 034
Varietas SAB 034
Alpukat Dupuis asal Florida, dibandingkan dengan penggaris 15 cm
Alpukat Dupuis asal Florida (jenis terbaru)

Materi lengkap operator: alpukat.djoko-saylendro.biz.id. Kunjungan ke kebun binaan dapat diatur bila Direksi memerlukan pembuktian langsung.

Lampiran — Bukti lapanganUji kewajaran asumsi kebun17 / 18

Model ini memakai asumsi yang lebih rendah daripada angka operatornya sendiri.

Cara paling jujur menguji sebuah proyeksi adalah membandingkannya dengan angka pihak yang akan mengerjakannya. Di sini modelnya sengaja dipasang di bawah.

Parameter per hektarAngka operatorDipakai model ini
Kepadatan tanam250 pohon250 pohon
Total modal sampai kebun mandiriRp700–800 jtRp712,9 jt
Mulai mandiri biayaTahun ke-2–3Tahun ke-3
Estimasi hasil bersih / ha / tahun±Rp2,50 MRp1,65 M
Harga jual dipakaiRp20.000/kgRp20.000/kg
Model ini terhadap angka operator100%66%

Angka operator sendiri sudah disebut skenario konservatif: hasil per pohon dan frekuensi panen diambil di batas bawah, sementara harga jual memakai rata-rata pasar riil — padahal harga retail alpukat premium bisa Rp80–90 ribu/kg.

Artinya untuk Direksi

Seluruh angka IRR dan bagi hasil di halaman sebelumnya berdiri di atas asumsi panen sepertiga lebih rendah daripada yang diklaim operator. Ruang kelirunya sudah dipasang di depan, bukan disembunyikan.

Uji ketahanan berlapis
  • Panen 100% kurva model → margin tertipis +Rp0,84 M di Tahun 5.
  • Panen 70% kurva model → masih sanggup, margin tertipis +Rp0,34 M di Tahun 7.
  • Panen 50% kurva model → kurang ±Rp250 juta, terpusat di Tahun 7–9. Perlu cadangan, tidak tertutup sendiri.
Ukuran pasar (angka operator)

Jabodetabek saja: 40 juta penduduk, asumsi 5% konsumen rutin, 0,5 kg/hari @ Rp20 ribu → ±Rp7,2 triliun/tahun. Untuk memenuhinya perlu ±2.880 ha kebun terstruktur, sementara kebun berproduksi penuh di atas 100 ha pun belum ada di Indonesia. Kebun 3 ha di sini tidak akan kesulitan menyerap pasar.

Angka operator dari alpukat.djoko-saylendro.biz.id. Seluruhnya bersifat proyeksi berdasarkan asumsi yang dapat diubah, bukan jaminan hasil — dan justru karena itu model ini memasang asumsinya lebih rendah.

Lampiran — Bukti lapanganSimulasi interaktif18 / 18

Silakan ubah asumsinya sendiri — geser luas lahan, skema bagi hasil, dan asumsi harga, angkanya menghitung ulang saat itu juga. Kalkulator ini menghitung sisi kebunnya saja, terpisah dari model villa, dipakai untuk menguji apakah asumsi kebun di halaman sebelumnya masuk akal. Butuh layar lebih lega? Buka di tab terpisah. Seluruh hasil bersifat proyeksi atas asumsi yang dapat diubah, bukan jaminan hasil.

← → untuk berpindah slide